![]() |
Sternberg (1985) mengungkapkan bahwa ada tiga aspek dalam kecerdasan, yaitu: kecerdasan analitis (analytical intellegence), kecerdasan kreatif (creative intellegence), dan kecerdasan praktis (practical intellegence).
Kecerdasan analitis berhubungan dengan merencanakan, mengatur, dan mengingat fakta, serta menerapkannya ke dalam situasi baru.
Kecerdasan kreatif berhubungan dengan kemampuan menemukan hubungan baru antara berbagai hal, dapat menghubungkan hakikatnya ke pengalaman.
Kecerdasan praktis berhubungan dengan kemampuan untuk melihat bagaimana suatu potongan informasi dapat diterapkan ke dunia nyata, atau menemukan solusi praktis untuk masalah-masalah dalam kehidupan sebenarnya. Kecerdasan praktis juga berhubungan dengan kemampuan membaca situasi sosial.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara keturunan, lingkungan dan interaksi antra keturunan dan lingkungan dalam perkembangan intelektual. Dalam kaitannya dengan lingkungan, penelitian menunjukkan bahwa anak yang memperoleh rangsangan intelektual lebih banyak mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi.
Dalam kehidupan sebenarnya, kecerdasan praktis dan kecerdasan kreatif, bersama-sama dengan kecerdasan emosional berperan sama pentingnya , atau bahkan lebih penting daripada kecerdasan analitis, yang biasa terukur dengan IQ. sayang sekali sampai saat ini tingkat kecerdasan yang dapat terukur hanyalah IQ, dan belaum ada ukuran yang jelas untuk kecerdsan kreatif dan praktis.
Pada tataran praktis, pendidikan aqidah yang dapat diberikan kepada anak melalu contoh dalam keseharian.
Contoh saja yang bisa dilakukan:
1. memakai kerudung. menjelasakan kepada anak bila ada tama seorang ibu memakai kerudung untuk menemui tamu dan memakaikan kerudung juga kepada anaknya. di sekolah seorang guru bisa menyampaikan bahwa berkerudunglah bila hendak keluar rumah. di dalam rumah boleh tidak berkerudung
2. makan dan minum dengan tangan kanan. setiap makan perlihatkan senantiasa makan dan minum dengan tangan kanan. ketika anaknya hendak makan juga diingatkan untuk makan dengan tangan kanan dan minum dengan tangan kanan. Di sekolah guru bisa mengajarkan pada saat praktik makan, dan juga bisa memberikan lagu agar anak selalu ingat.
3. membaca doa sebelum makan dan minum atau melakukan apa saja. di rumah orang tua selalu mengucapkan doa dengan keras dan mengajarkannya dengan menghafalkan di saat bersama siswa. di sekolah hafalan doa dan bagaimana mempraktikkannya juga dilaksanakan. dan lingkungan rumah lah yang sangat berpengarush dalam pelaksanaannya. karena anak melihat dan mencontoh orang dewaa dalam berperilaku
Banyak contoh lainnya yang dapat kita lakukan dalam keseharian.
Referensi:
Buku Paket Interaktif ALIF

5 Comments
Hadiah milad untuk Erlyta di usia ke-5. semoga menjadi anak sholehah yang pinter dan senantiasa sehat selalu
ReplyDeletemantap sekali bu
ReplyDeleteterima kasih Pak
Deletekeren...
ReplyDeleteAsaalamualaikum bu. Kereen
ReplyDelete